Semua Kembali ke Blok M

Saya cerita dari sisi saya ya. Awalnya saya memang sudah kenal dengan Pak Handoko (CEO PT Ruang Riang Milenial) sejak 10 tahun lalu. 

Ketemu di salah satu talkshow periklanan di Semarang, saat itu Pak Handoko masih menjadi owner ad agency Satucomm. Setelah itu kami intens diskusi tentang dunia musik dan dunia kreatif. Saya dulu sempat juga menjadi penulis tamu di buku perdana Pak Handoko, Brand Gardener. 

Setelah sempat gak kontak beberapa tahun lamanya, di akhir 2018 saya bertemu lagi dengan Pak Handoko, Glenn Fredly, Lance Mengong, Mario Sugianto. Awalnya untuk proyek revitalisasi Studio Lokananta di Solo sebagai creative hub. 

Cuma proyek di Solo ini akhirnya dipending dan Pak Handoko pada awal Januari 2019 dapat tawaran dari Pak Jacob untuk mengisi tempat seluas 7000 m2 di Blok M yang ternyata merupakan lahan milik Peruri.

Pak Handoko menghubungi saya lagi dan menawarkan untuk join juga di proyek ini. Saya tawarkan untuk membuat Live House, venue konser musik skala kecil namun fully soundproofed, sound system dan lighting system hi-end dan dilengkapi LED besar. Fungsinya sebagai sirkuit konser band-band lokal, nasional maupun regional. Ini aspirasi dari teman-teman musisi juga yang merasa Jakarta masih sangat kekurangan venue musik yang layak dan memadai.

Suatu malam di akhir Januari 2019 itu saya, Glenn Fredly dan Pak Handoko mempresentasikan proposal tentang Live House ini kepada Pak Indrajid, Direktur Peruri Property di Jco Bintaro Exchange sekitar jam 21:30. Proposal ini saya buat cuma dalam waktu 2 jam saja karena saat nongkrong di Starbucks BXC itu saya dikabari Pak Handoko bahwa ada orang Peruri yang ingin bertemu dan melihat ide proyek kami tersebut. 

Selanjutnya kami nongkrong di Jco sampai diusir secara halus karena sudah hampir jam 23, mereka sudah harus tutup dan pulang. Mungkin kalo gak ada Glenn kami sudah diusir sejak jam 22 hehe.

Terkait nama M Bloc sendiri dan filosofinya itu saya yang mengusulkan kepada rekan-rekan yang lain dan alhamdulillah diterima. Beberapa usulan nama sebelumnya antara lain Blok Musik. Pak Lance menambahkan kata Space di belakangnya karena akan membeli domain .space untuk website kami. Saya buat akun IG dengan nama @mblocspace juga karena itu. Belakangan nama tempatnya jadi lebih dikenal masyarakat sebagai M Bloc Space 😂

Kembali ke kronologis. Diluar dugaan, setelah dipresentasikan pada pertengahan Feb 2019 ke BOD Peruri, proposal kami ternyata diterima dengan baik dan direspons dengan sangat cepat oleh mereka. Peruri tertarik dengan ide kami dan berniat untuk melakukan kerja sama operasi. 

Melihat keseriusan Peruri ini kami akhirnya nongkrong lagi di Citos dan mulai membentuk PT Ruang Riang Milenial, nama ini ciptaan Pak Handoko. 

Setelah terbentuk akhirnya pada 17 Mei 2019 kami menandatangani kontrak kerja sama operasi dengan Direktur Utama Peruri yang dilanjutkan dengan melakukan jumpa pers pada sore harinya. 

Saat itu adalah puasa hari pertama, usai jumpa pers kami mengajak rekan-rekan wartawan yang hadir untuk ikut tur keliling area bekas perumahan dinas karyawan Peruri dan dua gudang bekas cetak uang yang telah idle sejak tahun 1993.

Tiga hari setelah jumpa pers, pada 20 Mei 2019, selama 3,5 bulan kemudian, 6500 m2 lahan bekas Peruri itu kami renovasi dan ubah sesuai dengan rancangan desain arsitek yang dibuat oleh Pak Jacob dan tim Arcadia Architect. 

26 September 2019 akhirnya M Bloc Space mulai dibuka soft opening untuk umum oleh Menteri BUMN Rini Soemarno. Awalnya ingin dibuka pada 15 September 2019, bertepatan dengan HUT Peruri ke-48 namun karena ada kendala di renovasi akhirnya tertunda pembukaannya seminggu lamanya.

Leave a Comment